No Katalog : -
No Publikasi : -
ISSN/ISBN : -
Tanggal Rilis :2026-03-05
downloadKabupaten Hulu Sungai Selatan memiliki sumberdaya yang besar pada sektor pertanian termasuk sumberdaya pangan sehingga dapat mendukung Program MBG. Produk pangan yang tersedia didominasi padi dan ubi jalar yang merupakan sumber karbohidrat, itik dan ikan rawa/sungai sebagai sumber protein, serta berbagai produk hortikultura sebagai sumber vitamin, mineral dan serat. Meskipun produk lokal tersedia melimpah, tapi tidak sepenuhnya optimal dimanfaatkan dalam Program MBG. Permasalahan yang dihadapi yaitu belum adanya regulasi penggunaan produk lokal, skala produksi kecil, kualitas tidak standar, belum optimalnya pengolahan dan diversifikasi produk, status kelembagaan petani, dan kemitraan dengan stakeholder terkait. Rekomendasi kebijakan yang dapat diambil yaitu pembuatan regulasi yang terkait dengan penggunaan produk lokal dalam penyediaan bahan baku MBG, konsolidasi komoditas yang diproduksi, fasilitasi dan peningkatan sarana dan prasarana pengolahan, pengembangan dan diversifikasi produk olahan, peningkatan status kelembagaan petani/nelayan/pembudidaya ikan, serta peningkatan kemitraan kelembagaan petani/nelayan/ pembudidaya ikan dengan stakeholder terkait. Adanya peningkatan di sektor pertanian diharapkan dapat meningkatkan perekonomian daerah yang merupakan perwujudan visi Kabupaten Hulu Sungai Selatan 2025-2029 yang memfokuskan penguatan desa sebagai basis pertumbuhan ekonomi inklusif.
No Katalog : -
No Publikasi : -
ISSN/ISBN : -
Tanggal Rilis :2026-02-23
downloadKabupaten Hulu Sungai Selatan menunjukkan tren penurunan angka kemiskinan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, evaluasi indikator kesejahteraan memperlihatkan bahwa kedalaman dan keparahan kemiskinan cenderung meningkat. Kondisi ini menandakan terjadinya pergeseran karakter kemiskinan, di mana jumlah penduduk miskin berkurang, tetapi kelompok yang tersisa semakin rentan dan didominasi kemiskinan kronis.Permasalahan utama terletak pada ketergantungan rumah tangga miskin pada sektor pertanian tradisional dengan produktivitas rendah, meningkatnya biaya hidup, serta keterbatasan program pemberdayaan ekonomi yang belum sepenuhnya menyasar peningkatan pendapatan jangka panjang. Selain itu, fragmentasi data sasaran turut memengaruhi ketepatan intervensi kebijakan.Berdasarkan kondisi tersebut, arah kebijakan periode 2025–2030 perlu bergeser dari pendekatan berbasis bantuan sosial menuju pendekatan berbasis penguatan mata pencaharian (livelihood-oriented). Fokus kebijakan tidak hanya pada penurunan persentase kemiskinan, tetapi juga pada pengurangan kedalaman dan ketimpangan kemiskinan melalui peningkatan produktivitas ekonomi desa, transformasi pertanian bernilai tambah, integrasi perlindungan sosial dengan pemberdayaan ekonomi, serta intervensi yang lebih presisi berbasis rumah tangga. Dengan pendekatan yang produktif, terarah, dan berkelanjutan, diharapkan mobilitas ekonomi masyarakat rentan dapat meningkat dan sistem ekonomi lokal menjadi lebih inklusif serta resilien.
No Katalog : -
No Publikasi : -
ISSN/ISBN : -
Tanggal Rilis :2026-01-05
downloadInovasi HSS Semangat (Service Excellent Mobil Antar Pulang Pasien Sehat Gratis) merupakan program unggulan RSUD Brigjend H. Hasan Basry (BHHB) Kandangan yang bertujuan memberikan pelayanan transportasi gratis bagi pasien pasca-rawat inap. Program ini hadir sebagai solusi atas kendala biaya transportasi dan aksesibilitas geografis yang sering dihadapi masyarakat, khususnya keluarga dengan keterbatasan ekonomi di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Dengan memanfaatkan teknologi sederhana seperti Google Form, WhatsApp, dan dashboard monitoring, rumah sakit berhasil mentransformasi proses pemulangan pasien menjadi lebih sistematis, responsif, dan humanis sejalan dengan visi penguatan kesejahteraan warga tahun 2025-2029. Selama periode implementasi dari Mei 2025 hingga April 2026, inovasi ini telah melayani sebanyak 426 pasien dengan tingkat kepuasan yang tinggi. Data menunjukkan bahwa penerima manfaat terbesar berasal dari wilayah terjauh atau Zona 3, yakni sebesar 38%, yang membuktikan bahwa program ini sangat efektif menjangkau masyarakat di daerah terpencil. Meskipun mencapai hasil yang positif, program ini masih menghadapi beberapa tantangan seperti keterbatasan jumlah armada kendaraan, jangkauan wilayah yang luas, serta infrastruktur jalan yang rusak di daerah pelosok. Untuk mengatasi hal tersebut, langkah strategis yang direkomendasikan mencakup peningkatan alokasi anggaran secara bertahap dan penguatan kerja sama lintas sektor dengan pihak TNI, Polri, hingga pemerintah desa. Selain itu, pengembangan teknologi informasi yang lebih terintegrasi dengan sistem manajemen rumah sakit diharapkan dapat terus meningkatkan efisiensi koordinasi sehingga inovasi ini dapat diduplikasi oleh fasilitas kesehatan lainnya
No Katalog : -
No Publikasi : -
ISSN/ISBN : -
Tanggal Rilis :2026-01-05
downloadRSUD Brigjend H. Hasan Basry (BHHB) Kandangan mengembangkan inovasi E-Rekam Medik untuk mengatasi keterbatasan rekam medis manual, seperti keterlambatan pencarian berkas 10-15 menit, risiko kehilangan dokumen, dan kurangnya integrasi antar unit pelayanan di rumah sakit tipe B rujukan wilayah Banua Anam. Sistem berbasis web ini terintegrasi dengan SIMRS, BPJS Kesehatan, serta sistem satu sehat, dimulai uji coba Desember 2024 dan implementasi penuh sejak Januari 2025.Meskipun inovasi ini berhasil meningkatkan efisiensi dengan pencarian data pasien menjadi 1 menit (peningkatan 90%), pengurangan waktu tunggu 30-50%, serta penghematan kertas hingga 80%, masih terdapat kendala seperti keterbatasan infrastruktur jaringan, adaptasi SDM, dan keamanan data. Proses terintegrasi antar unit didukung SOP berdasarkan Perda HSS No.10/2022, dengan input SDM nakes/IT dan anggaran terealisasi Rp5,25 juta dari Rp8,98 juta. Rekomendasi kebijakan mencakup replikasi inovasi ke RSUD lain di Kalsel, monitoring evaluasi tahunan, optimalisasi data untuk perencanaan kesehatan, pengembangan fitur telemedicine, serta penguatan kerjasama dengan Dinkes dan BPJS. Peningkatan ini diharapkan memperkuat pelayanan kesehatan modern dan mendukung visi Kabupaten Hulu Sungai Selatan 2025-2029
No Katalog : -
No Publikasi : -
ISSN/ISBN : -
Tanggal Rilis :2025-12-18
downloadPemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) merilis hasil Kajian Kemiskinan Ekstrem sebagai bagian dari upaya mendukung target nasional penghapusan kemiskinan ekstrem serta memperkuat kebijakan pembangunan daerah yang berbasis data dan fakta lapangan.Kajian ini merupakan hasil kolaborasi antara Bappelitbangda Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Universitas Lambung Mangkurat, serta Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Pelaksanaannya menggunakan pendekatan mixed methods dengan mengombinasikan data P3KE, Regsosek, serta data kualitatif melalui survei rumah tangga, wawancara, diskusi kelompok terarah, dan observasi lapangan di 11 desa prioritas.Berdasarkan hasil kajian, tingkat kemiskinan ekstrem di Kabupaten Hulu Sungai Selatan tercatat relatif rendah, yakni sekitar 0,6 persen. Namun demikian, sebaran kemiskinan ekstrem masih terkonsentrasi di beberapa wilayah, khususnya di kawasan Daha dan Loksado. Wilayah tersebut masih menghadapi keterbatasan layanan dasar, kondisi perumahan yang belum layak, serta akses air bersih dan sanitasi yang perlu ditingkatkan.Kajian juga mengidentifikasi adanya ketidaksinkronan data antara P3KE, DTKS, dan Regsosek. Kondisi ini berdampak pada ketepatan sasaran program, karena sebagian rumah tangga belum sepenuhnya melaporkan penghasilan tambahan yang dimiliki sehingga status kemiskinan ekstrem belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil.Selain itu, ketergantungan terhadap bantuan sosial masih menjadi tantangan. Program bantuan seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) terbukti membantu pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, namun pada beberapa kasus berpotensi menimbulkan ketergantungan jangka panjang yang menghambat upaya kemandirian ekonomi.Dari sisi pemberdayaan ekonomi, rendahnya kapasitas usaha dan literasi keuangan masyarakat menjadi faktor penting yang memengaruhi keberlanjutan pengentasan kemiskinan ekstrem. Banyak rumah tangga belum berani memulai usaha produktif karena keterbatasan keterampilan, akses permodalan, serta rendahnya kepercayaan diri. Kondisi ini juga berdampak pada kualitas pendidikan anak, terutama risiko putus sekolah pada keluarga miskin ekstrem di wilayah Loksado dan Daha akibat faktor ekonomi dan geografis.Kajian ini turut menyoroti faktor kultural yang memengaruhi kemiskinan ekstrem, khususnya persepsi bantuan sosial sebagai hak tetap. Oleh karena itu, diperlukan intervensi yang tidak hanya bersifat bantuan jangka pendek, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir melalui penguatan literasi keuangan, peningkatan kapasitas usaha, dan pendampingan berkelanjutan. Melalui hasil kajian ini, Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan diharapkan dapat merumuskan kebijakan dan program pengentasan kemiskinan ekstrem yang lebih tepat sasaran, terintegrasi, dan berkelanjutan, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.