No Katalog : -
No Publikasi : -
ISSN/ISBN : -
Tanggal Rilis :2024-10-02
downloadPelaksanaan Otonomi Daerah di Indonesia memberikan dampak besar terhadap pengelolaan dan pembagian kewenangan, maka diperlukan pembagian tugas antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Salah satunya adalah dalam mengatur kebutuhan pokok. Setidaknya dalam manajemen distribusi bahan pokok, Pemerintah Pusat bertugas dalam menetapkan kebijaksanaan kebutuhan pokok yang berlaku diseluruh Indonesia. Selanjutnya pemerintah pusat juga mengatur kelancaran distribusi antara daerah dan antara pulau. Pemerintah pusat menetapkan dan mengatur kebijaksanaan ekspor-impor dengan sasaran pemenuhan kebutuhan dalam negeri dan perlindungan terhadap produsen dan konsumen. Adapun Pemerintah Daerah pada dasarnya menjalankan kebijaksanaan pemerintah pusat. Menjaga kelancaran arus barang dari dan ke daerahnya. Pemerintah Daerah juga memonitor persediaan di berbagai tingkat perdagangan dan memonitor perkembangan harga. Dengan pemahaman bahwa distribusi sebagai proses pemindahan barang dari produsen (misalnya petani) ke konsumen akhir. Maka distribusi produk pangan pokok (seperti beras, daging ayam, gula) dan hortikultura (seperti buah-buahan, sayuran) sangat penting untuk pengendalian inflasi, melalui ketersediaan barang dan kestabilan harga. Beberapa langkah awal yang dapat diambil oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan dalam rangka manajemen distribusi bahan pokok adalah sebagai berikut : 1. Melakukan pendataan secara rinci terkait pedagang besar, distributor bahan pokok yang terlibat dalam Rantai Pasok Pangan (Food Supply Chain) beberapa komoditas penting di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Sebaiknya data ini dapat menggambarkan profil, jumlah pedagang, kuota, waktu pasok dan asal daerah, data spasial, serta data lainnya sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pengambil kebijakan. 2. Pembentukan kelompok/forum sebagai sarana silaturrahmi dan koordinasi, dalam rangka memudahkan pola kolaborasi dengan pemerintah daerah. 3. Melakukan analisa dan tindaklanjut terhadap Sembilan pilihan kebijakan dalam melakukan manajemen distribusi bahan pokok di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
No Katalog : -
No Publikasi : -
ISSN/ISBN : -
Tanggal Rilis :2024-10-01
downloadPenelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui implementasi kebijakan program bantuan langsung tunai dana desa (BLT-DD) dalam upaya menanggulangi masyarakat miskin (studi di Desa Bamban Kecamatan Angkinang Kabupaten Hulu Sungai Selatan). Berawal dari fenomena kemiskinan yang terus menerus meningkat dikarenakan Covid-19 maka dari itu pemerintah mengeluarkan kebijakan yang salah satunya adalah Bantuan Langsung Tunai Dana desa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tipe diskriptif. Informan dalam penelitian ini berjumlah 13 orang yang terdiri dari Kepala Desa Bamban, Sekertaris Desa Bamban, Ketua BPD Desa Bamban, Ketua RT dan Masyarakat penerima BLT-DD. Hasil penelitian ini menggunakan 4 variabel George Edward III (1980) untuk mengukur implementasi kebijakan pada program BLT-DD di Desa Bamban Kecamatan Angkinang Kabupaten Hulu Sungai Selatan antara lain komunikasi, sumberdaya, disposisi/sikap dan struktur birokrasi. Keempat variabel tersebut dapat disimpulkan bahwa implementasi kebijakan BLT-DD sudah berjalan dengan bai namun untuk indikator disposisi/sikap masih kurang hal itu dilihat dari dalam implementasi program bantuan langsung tunai dana desa di desa Bamban masih ada sikap pelaksana program yang tidak tegas. Adapaun beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu ketersediaan dana dari pemerintah pusat dan masyarakat yang kurang paham dengan SOP yang disediakan. Saran oleh peneliti: 1) diharapkan pada saat aparat desa dan masyarakat desa Bamban Kecamatan Angkinang Kabupaten Hulu Sungai Selatam, kedepannya apabila telah menyepakati sebuah keputusan dalam sebuah musyawarah atau membuat keputusan baru hendaknya dipertimbangkan matang-matan untuk dampak positif dan negatifnya. 2) Harapannya masyarakat jika masih terdapat suatu hal yang mengganjal bisa saja langsung menanyakan kepihak pelaksana program agar tidak terjadi kesalahpahaman.
No Katalog : -
No Publikasi : -
ISSN/ISBN : -
Tanggal Rilis :2024-10-01
download Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan evaluasi program Bantuan Langsung Tunai Dana Desa di Desa Tumbukan Banyu Kecamatan Daha Selatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan mengetahui faktor penghambatnya. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dan menggunakan tipe deskriptif dengan lokasi penelitian di Desa Tumbukan Banyu Kecamatan Daha Selatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknis analisis data melalui tiga alur yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Evaluasi Program Bantuan Langsung Tunai Dana Desa di Desa Tumbukan Banyu, Kecamatan Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan selama pelaksanaannya dengan 3 tahapan yaitu pendataan, musyawarah desa, dan penyerahan bantuan sudah berjalan cukup efektif. Sudah tepat sasaran dan pada pelaksanaannya sudah efisien karena peralihan dari penyerahan secara pengambilan ke kantor desa menjadi penyaluran melalui rekening bank yang mana memudahkan pelaksana maupun penerima bantuan. Kecukupan dari segi jumlah bantuan masih kurang dan masih belum terjadi pemerataan. Program ini juga mendapat respon yang positif dari penerima. Adapun kendala yang terjadi antara lain: tidak adanya anggaran sosialisasi program, kurangnya informasi kepada masyarakat, keterlambatan pencairan dana bantuan. Secara keseluruhan program ini bagus untuk membantu masyarakat miskin, namun apabila ingin dilanjutkan hendaknya diperbaiki lagi dalam pelaksanaannya. Berdasarkan hal tersebut hendaknya pemerintah bisa melakukan sosialisasi dan memberikan informasi kepada masyarakat dengan jelas sehingga tidak terjadi kesalahpahaman antara satu warga dengan warga lainnya. Kepada penerima bantuan sebaiknya jangan terlalu bergantung kepada bantuan yang diberikan pemerintah apalagi untuk bantuan langsung tunai dana desa ini bersifat temporer (untuk sementara waktu atau waktu yang darurat)
No Katalog : -
No Publikasi : -
ISSN/ISBN : -
Tanggal Rilis :2024-10-01
downloadKabupaten Hulu Sungai Selatan setiap tahunnnya mengalami pertumbuhan jumlah penduduk yang mempengaruhi jumlah timbulan sampah. Jumlah timbulan sampah yang bertambah setiap tahunnya mempengaruhi umur daya tampung TPA. Keberadaan TPS 3R untuk mengurangi jumlah sampah yang diangkut ke TPA. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana pengelolaan sampah TPS 3R di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Jenis penelitian ini adalah deskriftif dengan populasi penelitain 5 TPS 3R di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara studi literatur dan observasi. Diperoleh rata-rata timbulan sampah adalah 3.722,97 kg/hari. Rata-rata komposisi Sampah adalah organik (11,86%), anorganik (0,59%) dan residu (87,55%). Pembiayaan dikelola DISPERA KPLH dan KSM. SDM sebanyak 42 petugas. Sarana dan prasarana hanya 77,31% yang tersedia. Tidak ada SOP teknis pelaksanaan pengelolaan sampah. Pewadahan sampah didominasi kantong plastik. Pengumpulan sampah dilakukan oleh petugas TPS 3R masyarakat. Pemilahan sampah dilakukan oleh petugas TPS 3R. Pengolahan sampah 3R difokuskan untuk sampah organik. Sampah residu yang diangkut ke TPA mencapai 1.664.980 kg. TPS 3R memproduksi pupuk kompos, maggot kering, cocopeat, cocofiber, kayu bakar, serbuk kayu, larutan MOL dan sampah pilah layak jual. Untuk mengoptimalkan fungsi TPS 3R disarankan untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam pemilahan dan pengelolaan sampah dari sumbernya.
No Katalog : -
No Publikasi : -
ISSN/ISBN : -
Tanggal Rilis :2024-10-01
downloadeliminary studies it found that there psychological difficulties in speaking english experienced by students grade 11𝑡ℎ SMAN 2 Kandangan. Some of the difficulties, including; students do not really like English lessons, students are not confident when speaking English, students are afraid if their friends do not understand when they speak English, and students do not master certain vocabulary in English. Therefore, the objective of this research is to find out and to describe what are the psychological difficulties of 11𝑡ℎ grade students of SMAN 2 Kandangan in speaking English during the learning process. This research uses descriptive qualitative research as the approach and type of research. This research analyzes the data to describe about students’ psychological difficulties in speaking english during learning process. The technique of collecting data is through questionnaire and interview. The data analysis is done through data condensation, data display, and drawing verifying conclusion. The result of this research shows students’ psychological difficulties in speaking English at the 11𝑡ℎ grade of SMAN 2 Kandangan are; students are afraid of being critized or embrassed, students feel that learning English is a difficult lesson, students are often laughed at by their friends when they speak English in class, and students are afraid of being wrong.