No Katalog : -
No Publikasi : -
ISSN/ISBN : -
Tanggal Rilis :2019-07-19
downloadABSTRACT Understanding the proper use of grammar is paramount as it affects the communication process between the addresser and the addressee. Ellipsis is one of the sub-topics in linguistics that focuses on the effective use of language in any type of discourse. To put it simply, ellipsis refers to the process of omitting/ellipting word(s) in any textual unit when the context is already established and can be assumed. This research is aimed at investigating: (1) the types of elliptical constructions found in advertisements of National Geographic Magazine and (2) the formulations of elliptical constructions in advertisements of National Geographic Magazine. The researcher employed a qualitative research design, taking all the advertisements found throughout the three issues of National Geographic Magazine from January to March 2018 as the research objects. The instruments used by the researcher were human instrument and document analysis. All of the data were examined through the following steps: data validation, identification, classification, and the elliptical operation analysis utilizing the concept of presupposition. The result of this research has revealed that all the three types of incohesive ellipsis were employed in the printed advertisements selected as the source material of this study. These three incohesive ellipsis types were: structural, situational, and textual, which are respectively 21, 18, and 6 data in total. Additionally, it was found that a unit of text within the advertisement could employ not only one but two or even all the three types of ellipsis at the same time. Even further, each type could also cover up to 3 different ellipted elements with various pattern combinations. These findings were associated heavily on the type of discourse used, the block-style language of printed advertisement is meant to be catchy, short and effective for the readers upon delivering its information.
No Katalog : -
No Publikasi : -
ISSN/ISBN : -
Tanggal Rilis :2019-07-18
downloadABSTRAK Siti Fatimah. 2019. Problematika Siswa dalam Pembelajaran Matematika di Kelas VII A MTsN 5 HSS Tahun Pelajaran 2018/2019. Skripsi, Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Pembimbing: (I) Hasby Assidiqi, S. Pd, M.Si (II) Drs. H. Murdan, M.Ag. Penelitian ini merupakan tentang problematika siswa dalam pembelajaran matematika di kelas VII A MTsN 5 HSS. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui problematika pembelajaran matematika di kelas VII A MTsN 5 HSS dan faktor-faktor yang mempengaruhi problematika pembelajaran matematika di kelas VII A MTsN 5 HSS. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), yaitu penelitian yang bertujuan dengan terjun langsung kelapangan untuk menggali dan mengumpulkan sejumlah data yang diperlukan mengenai problematika pembelajaran matematika di kelas VII A MTsN 5 HSS dan faktor-faktor yang mempengaruhi problematika pembelajaran matematika di kelas VII A MTsN 5 HSS. Subjek penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas VII A yang berjumlah 19 orang dan 1 orang guru mata pelajaran matematika yang mengajar di kelas VII A. Sedangkan objek penelitian ini adalah problematika pembelajaran matematika di kelas VII A MTsN 5 HSS dan faktor-faktor yang mempengaruhi problematika pembelajaran matematika di kelas VII A MTsN 5 HSS. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik angket, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa problematika pembelajaran matematika meliputi problematika yang berhubungan dengan peserta didik, penguasaan dan pengembangan materi, metode mengajar, media pembelajaran, serta evaluasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi problematika pembelajaran matematika meliputi faktor siswa (minat, keaktifan, dan gaya belajar) dan faktor guru (latar belakang pendidikan guru, pengalaman mengajar, metode mengajar dan lingkungan belajar)
No Katalog : -
No Publikasi : -
ISSN/ISBN : -
Tanggal Rilis :2019-06-17
downloadABSTRAK RAMADANI. 2019. Peran orang tua karir dalam membina akhlak islami pada anak di Desa Amawang Kiri Kecamatan Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Pembimbing 1. H. Surawardi, M. Ag dan pembimbing 2. Muhammad Adli Nurul Ihsan, M. Pd.I. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana peran orang tua karir dalam membina akhlak islami pada anak serta faktor penghambat orang tua karir dalam membina akhlak islami pada anak yang dilatar belakangi oleh karena kesibukan, pekerjaan atau karir dari orang tua, dilihat dari orang tua yang kesehariannya bekerja atau berkarir sehingga waktu bersama anaknya sedikit, sehingga menghambat peran orang tua karir dalam membina akhlak islami pada anak, dan juga karena pengaruh faktor lingkungan karena dilingkungan tersebut masih ada sebagian orang yang melakukan prilaku atau hal-ahal negatif yang bertentangan dengan nilai dan norma masyarakat sehingga dapat menghambat peran orang tua karir dalam membina akhlak islami pada anak sehingga peran orang tua karir khusunya di Desa Amawang Kiri patut untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Peran orang tua karir dalam membina akhlak islami pada anak dan faktor penghambatnya, subjek penelitian ini adalah 3 orang tua karir yang mempunyai anak umur 6-12 tahun objek penelitian ini adalah Peran orang tua karir dalam membina akhlak islami pada anak di Desa Amawang Kiri Kecamatan Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan faktor penghambatnya. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dokumentasi. Adapun teknik pengolahan data yang digunakan adalah reduksi, editing, klasifikasi, verifikasi. Teknik analisis data yang digunakan penulis bersifat analisis kualitatif, yaitu dengan mendeskripsikan data yang di dapat dalam bentuk uraian kalimat. Penelitian ini membahas tentang bagaimana Peran orang tua karir dalam membina akhlak islami pada anak di Desa Amawang Kiri Kecamatan Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang meliputi sebagai pendidik utama, sebagai pembimbing, sebagai motivator, sebagai fasilitator dan sebagai komunikator. Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan menunjukan bahwa peran orang tua karir dalam membina akhlak islami pada anak sudah terlaksana dikarenakan kesadaran orang tua karir pada tanggung jawabnya terhadap kewajiban membina akhlak islami pada anak. Faktor-faktor yang menghambat peran orang tua karir dalam membina akhlak islami pada anak yaitu faktor Waktu dan kesempatan yang tersedia bagi orang tua dan faktor lingkungan
No Katalog : -
No Publikasi : -
ISSN/ISBN : -
Tanggal Rilis :2019-02-25
downloadABSTRAK Muhammad Rezki.. Pendidikan Akhlak Anak dalam Keluarga Single Parent di Desa Baluti Kecamatan Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Agama Islam. Pembimbing: (1) Muhammad Anwar, S.S, M.Pd.I. (II) Zaini, M.Pd.I. Kata Kunci: Pendidikan Akhlak, Single Parent Mendidik anak merupakan kewajiban semua orangtua, salah satu tugas orang tua yaitu harus mampu mendidik anaknya agar menjadi anak berakhlak yang baik. Dalam mendidik, mengasuh, dan mencari nafkah dan anak suami-istri harus saling berbagi tugas. Akan tetapi bagaimana jika salah satu dari orang tua yaitu suami atau istri tidak ada, Banyak dijumpai dalam kehidupan nyata diberbagai daerah, seorang ibu atau ayah (single parent) yang membesarkan anaknya seorang diri. Mengenai masalah pendidikan agama islam dalam sebuah keluarga terutama masalah akhlak juga sangatlah penting karena sebagai salah satu cerminan keberhasilan orang tua dalam mengasuh anaknya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pendidikan akhlak dalam keluarga single parent di Desa Baluti Kecamatan Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya.Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research). Subjek dalam penelitian ini ialah keluarga single parent di Desa Baluti Kecamatan Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Objeknya adalah pendidikan akhlak terhadap anak dalam keluarga single parent di Desa Baluti Kecamatan Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Untuk menggali data penelitian ini, menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Dari hasil penelitian, peneliti menghasilkan temuan sebagai berikut: pendidikan akhlak anak dalam keluarga single parent yaitu menanamkan pendidikan Akhlak kepada anak seperti Akhlak terhadap Allah dan pendidikan akhlak terhadap sesama makhluk dengan metode nasihat, teladan, pembiasaan, motivasi, kisah. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendidikan akhlak dalam keluarga single parent di Desa Baluti, yaitu faktor Intern dan Faktor Ekstern.
No Katalog : -
No Publikasi : -
ISSN/ISBN : -
Tanggal Rilis :2019-02-04
downloadUndang-undang perkawinan no. 1 tahun 1974 pasal 7 ditetapkan bahwa calon suami sekurang-kurangnya berumur 19 tahun dan calon istri sekurangkurangnya berumur 16 tahun.4 Dengan demikian menurut hukum islam dan undang-undang, perkawinan yang dilakukan oleh orang yang belum baligh atau belum berumur 19 tahun (bagi laki-laki) dan 16 tahun (bagi wanita) adalah pernikahan dini (pernikahan dibawah umur). Pernikahan dini adalah istilah kontemporer. Banyak kasus pernikahan anak perempuan dibawah umur yang terjadi di Indonesia terutama di pedesaan. Pernikahan anak dibawah umur sering kali terjadi atas karena beberapa faktor, misalnya karena faktor ekonomi yang mendesak (kemiskinan). Banyak orang tua dari keluarga miskin beranggapan bahwa dengan pernikahan anaknya, meskipun anak yang masih dibawah umur akan mengurangi beban ekonomi keluarganya dan dimungkinkan dapat membantu beban ekonomi keluarga tanpa berpikir panjang akan dampak negatifnya. Namun seiring perkembangan zaman, pandangan masyarakat justru sebaliknya, bahkan bagi perempuan yang menikah diusia belia dianggap sebagai hal tabu. lebih jauh lagi, hal itu dianggap menghancurkan masa depan wanita, menghambat kreativitasnya serta mencegah wanita untuk mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang lebih luas.5 Oleh karena itu, perlu penguatan dan pelestarian nilai-nilai perkawinan sesuai dengan ajaran agama, termasuk pencegahan pernikahan dini perlu mendapat perhatian yang lebih besar dari semua pihak baik masyarakat maupun pemerintah dalam hal ini Kantor Urusan Agama (KUA). Kantor Urusan Agama (KUA). adalah unit kerja terdepan Kementerian Agama RI (kemenag) yang melaksanakan tugas pemerintahan dibidang agama di wilayah kecamatan. Dikatakan sebagai unit kerja terdepan, karena KUA secara langsung berhadapan dengan masyarakat. Berdasarkan survei atau penjajakan awal yang penulis lakukan di daerah Kecamatan Daha Utara Kabupaten Hulu Sungai Selatan melalui Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) beserta stafnya maupun masyarakat sekitarnya dikatakan bahwa di daerah Kecamatan Daha Utara masih ada terjadi pernikahan dini yang dilakukan dengan cara nikah bawah tangan atau nikah tanpa tercatat. Biasanya orang yang dipercaya menikahkan dalam nikah dibawah tangan adalah ulama atau dan dimungkinkan dapat membantu beban ekonomi keluarga tanpa berpikir panjang akan dampak negatifnya. Namun seiring perkembangan zaman, pandangan masyarakat justru sebaliknya, bahkan bagi perempuan yang menikah diusia belia dianggap sebagai hal tabu. lebih jauh lagi, hal itu dianggap menghancurkan masa depan wanita, menghambat kreativitasnya serta mencegah wanita untuk mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang lebih luas.5 Oleh karena itu, perlu penguatan dan pelestarian nilai-nilai perkawinan sesuai dengan ajaran agama, termasuk pencegahan pernikahan dini perlu mendapat perhatian yang lebih besar dari semua pihak baik masyarakat maupun pemerintah dalam hal ini Kantor Urusan Agama (KUA). Kantor Urusan Agama (KUA). adalah unit kerja terdepan Kementerian Agama RI (kemenag) yang melaksanakan tugas pemerintahan dibidang agama di wilayah kecamatan. Dikatakan sebagai unit kerja terdepan, karena KUA secara langsung berhadapan dengan masyarakat. Berdasarkan survei atau penjajakan awal yang penulis lakukan di daerah Kecamatan Daha Utara Kabupaten Hulu Sungai Selatan melalui Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) beserta stafnya maupun masyarakat sekitarnya dikatakan bahwa di daerah Kecamatan Daha Utara masih ada terjadi pernikahan dini yang dilakukan dengan cara nikah bawah tangan atau nikah tanpa tercatat. Biasanya orang yang dipercaya menikahkan dalam nikah dibawah tangan adalah ulama atau